Dominasi Tayangan Asing

Tayangan asing merajai layar tv Indonesia. Ini menjadi pangkal dari mandeknya industri kreatif dalam negeri. Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) tampak menjadi macan ompong!

Film Pendek Ala Hanung Bramantyo

Simak mengapa Hanung sangat mencintai film pendek, dan berbagai harapannya.

Lewat lagu, Slank Kembali Sindir Korupsi.

Slank termasuk grup musik yang cukup getol menyuarakan penolakannya terhadap korupsi. Ini kiprah mereka yang terbaru.

Julie Estelle Menyabet Penghargaan dari Jackie Chan

Aktris cantik ini tampak sukses dengan peran brutalnya sebagai "The Hammer Girl".

Delusi Kick Andy

Sebuah ulasan mengenai tayangan motivasional yang populer di MetroTV.

Thursday, 2 July 2015

Delusi Kick Andy

Apa formula tayangan infotainment yang berlaku secara umum di televisi Indonesia? Sederhana: tampilkan hal-hal biasa yang terjadi pada orang-orang yang dianggap luar biasa. Dalam hal ini para pesohor, bintang film, model, atau siapapun yang beruntung terkenal selama lima belas menit. Apapun yang terjadi pada manusia-manusia ini diandaikan sudah memiliki nilai berita, entah Julia Perez yang mengatakan bahwa mendapat penghargaan rasanya lebih enak daripada berhubungan seks, entah Dian Sastro yang ganti behel, atau soal sibuknya persiapan mudik Baim Wong menjelang lebaran. Tak jadi soal bila informasi semacam itu tidak penting bagi publik, karena ketersohoran dengan sendirinya akan mendatangkan berita yang harus dibicarakan khalayak. Ukuran ”informasi yang layak untuk publik” di Indonesia memang terlanjur absurd. Seakan-akan Dian Sastro ganti behel akan mempengaruhi harga beras di pasar; seakan-akan jambak-jambakan Julia Perez dan Dewi Persik adalah sinyal untuk menaikan upah minimum regional.

Tayangan Kick Andy (Metro TV) adalah pembalikan dari rumusan tersebut: tayangkan hal-hal luar biasa yang terjadi pada orang-orang biasa secara mengharukan. Anak-anak usia Sekolah Dasar dengan segudang prestasi yang tak lazim, para orang tua yang merawat anak-anak mereka yang terkena penyakit langka, dan anak-anak muda yang kaya dari usaha sendiri di usia belasan atau 20-an awal, adalah sajian utama Kick Andy. Sebetulnya, beberapa kali Kick Andy mengundang narasumber-narasumber kondang. Iwan Fals atau Tiara Lestari, misalnya. Namun, nampaknya ini bukanlah perhatian utama Kick Andy. Sebaliknya, sosok-sosok tak dikenal publik yang berpotensi menguras air mata, yang tak lazim muncul dalam siaran berita televisi (apalagi infotainment) inilah yang menempati urutan terbanyak dalam daftar episode Kick Andy.

Mengambil perbandingan dengan tayangan berformat serupa, Kick Andy adalah Oprah Winfrey Show-nya Indonesia (atau jika kembali ke layar kaca 2000-an awal, kita ingat ada tayangan Tali Kasih di RCTI). Resepnya sama: seorang pembawa acara yang simpatik, Andy F. Noya, berbincang-bincang dengan narasumber orang biasa tentang topik-topik yang dianggap inspiratif dan mampu menerbitkan rasa haru. Sejak awal posisi inilah yang diambil oleh Kick Andy. Penonton diajak untuk menyaksikan persoalan sehari-hari orang biasa. Kisah-kisah mereka ditampilkan sebagai sesuatu yang otentik, karena dituturkan secara langsung oleh orangnya sendiri, tanpa mediasi pakar dan ahli—sebagaimana dalam segmen tertentu dalam siaran-siaran berita—dan seolah tanpa manipulasi lewat penyuntingan—walaupun kita tahu bahwa Kick Andy tidak disiarkan secara langsung.

Episode “Para Pengusaha Belia” (23 Maret 2013) adalah salah satu contohnya. Episode ini menampilkan tiga orang wirausahawan sukses dalam usianya yang masih sangat muda dan memulai bisnisnya dari nol. Putri, seorang gadis yang baru berusia 25 tahun, mengisahkan kesuksesannya mengelola bisnis kopi. Memulai karirnya dari bawah—dari pekerjaan-pekerjaan serabutan, aku Putri—akhirnya ia memiliki beberapa ratus hektar kebun kopi dan jejaring importir di sejumlah negara. Narasumber lain, Nicholas, seorang pemuda berusia 20-an, mampu membiayai kuliahnya dari sebuah bisnis yang kelihatannya tidak mentereng: berjualan ikan hias. Kesuksesan Nicholas salah satunya bersumber dari strategi yang barangkali sebelumnya tak pernah dilirik oleh penjual ikan hias mana pun. Ia bergerilya lewat situs jual-beli online bernama Kaskus. Seperti halnya Putri, Nicholas dikisahkan lahir dari keluarga tak mampu dan memiliki bakat dagang sejak kecil. Putri berjualan gorengan dan pulsa telepon ke teman-teman sekolahnya, sementara Nicholas berdagang mainan.

 Tentu ada tema-tema perjuangan dalam narasi mereka. Putri sempat melarat, sampai-sampai ia hanya mengantungi dua keping Rp500, yang lalu ia sumbangkan satu kepingnya untuk pengemis. Nicholas sempat ditipu oleh calon pembeli hingga kehilangan Rp 10 juta rupiah. Padahal, modal yang ia miliki cuma sekitar Rp11 juta. Tapi tentunya juga ada keajaiban dan keteguhan yang mirip-mirip iman. Tiba-tiba saja Putri menyaksikan selembar sepuluh ribuan melayang dari jembatan yang ia lewati. Hidupnya tertolong untuk hari itu. Usaha Nicholas sempat bangkrut di tahun 2010. Namun setahun kemudian ia bangkit, dan bisnisnya kembali berjalan dengan omset yang lebih besar.

Apa yang dibicarakan dalam “Para Pengusaha Belia” sebenarnya merupakan sekadar variasi dari tema-tema from rags to riches. Inti ajaran moralnya sangat generik: kendati terlahir miskin, Anda tetap berkesempatan untuk kaya asalkan rajin bekerja. Anda malas, Anda miskin; Anda bekerja keras dan jujur, Anda kaya. Pesan-pesan seperti ini punya efek motivasional yang besar jika dikontraskan dengan, katakanlah, penggambaran tipikal generasi tua yang senantiasa dicitrakan korup, kolot, puas diri, dan lebih gawat lagi, menguasai jejaring ekonomi dan politik—sehingga nyaris tak ada kesempatan bagi anak-anak muda untuk sukses di jalur mainstream yang telah dikuasai generasi tua.

 Sebagai narasi motivasional, Kick Andy tidak pernah membahas struktur ekonomi yang dominan itu. Alih-alih, pesan yang mau disampaikan adalah bahwa kesuksesan (atau sebaliknya, kemiskinan, kemalangan) adalah urusan niat dan usaha semata. Mungkin juga soal siapa yang paling kuat sembahyang dan berderma, karena keajaiban seperti selembar sepuluh ribuan bisa datang tanpa dinyana. Kaya atau miskin, dalam semesta Kick Andy, adalah problem moral.

Episode lainnya, “Aku Ingin Terus Hidup” (1 September 2013), menampilkan beberapa keluarga dengan anak-anak mereka yang didera penyakit langka. Saking langkanya penyakit-penyakit ini, kita hanya bisa menyebutnya dalam istilah medis bahasa Latin (Epidermolysis Bullosa, Congenital Rubella Syndrome, dan seterusnya). Langka tidaknya sebuah penyakit ternyata berpengaruh pada seberapa jauh ia dikenal khalayak setempat: semakin banyak penderitanya, semakin mendesak kebutuhan untuk menerjemahkannya dalam bahasa lokal. Semakin langka dan tak ada obatnya, akan semakin Latin ia, sebagaimana yang diperlihatkan dalam “Aku Ingin Terus Hidup”.

Habiba, seorang bayi asal Jambi berusia tiga tahun, menderita Epidermolysis Bullosa, sebuah penyakit yang konon sudah muncul dari dalam kandungan. Penyakit ini menyebabkan kulit Habiba gampang lecet dan berdarah ketika disentuh. Jari-jari tangannya harus diberi sela agar tak bergesekan dan lengket seperti yang telah terjadi pada jari-jari kakinya. Untuk berobat, Habiba dan keluarga harus bolak-balik Jambi-Jakarta, Dan untuk menutupi ongkos perjalanan itu, rumah pun terpaksa dijual. Ibu Habiba, Leni, adalah seorang mantan atlet dengan prestasi gemilang. Di sebuah kejuaraan dunia di Hong Kong, ia pernah memenangkan satu medali emas dan dua perak. Selain bekerja serabutan, kini Leni bekerja sebagai asisten pelatih olahraga dayung, sementara sang suami bekerja di luar kota.

Dua pasangan orangtua lainnya berasal dari kelas sosial yang berbeda dari orangtua Habiba. Namun rupanya ongkos pengobatan di Indonesia sangat tinggi, sehingga dalam kasus penderita kanker, misalnya, keluarga yang setia mendampingi pasien niscaya akan frustrasi lantaran kondisi finansial yang mendadak morat-marit. Salah satunya contohnya adalah keluarga Michelle, seorang gadis belia penderita leukimia atau kanker darah. Sebelum Michelle lahir, Johan dan Tami, orangtua Michelle, telah kehilangan anak kedua mereka karena penyakit yang sama. Michelle dikisahkan harus menjalani proses kemoterapi sebanyak 19 kali yang merontokkan rambutnya. Yang lebih menyayat lagi, dalam proses pengobatan sang anak, Tami divonis terkena kanker payudara. Namun keluarga Michelle tak menyerah, kendati nyaris jatuh miskin akibat tarif pengobatan argo kuda. Pengobatan Michelle dibantu oleh Yayasan Bunda Kasih, sebuah lembaga yang didirikan oleh Anne Avanti, seorang perancang busana yang juga memfasilitasi minat modelling Michelle. Lembaga ini awalnya membantu anak-anak penderita hydrocephallus. Baru belakangan setelah bertemu Michelle, Yayasan Bunda Kasih menghimpun bantuan untuk penderita leukimia.

Kisah keluarga Habiba dalam “Aku Ingin Terus Hidup” tak berhenti sampai di situ. Mungkin di luar episode ini, ibu-bapaknya akan tetap kerja serabutan agar bisa bolak-balik Jambi-Jakarta. Namun, yang ditonjolkan Kick Andy adalah Yayasan Bunda Kasih yang memberikan pernyataan bahwa mereka akan membantu biaya pengobatan Habiba. Apakah setelah episode tersebut Yayasan Bunda Kasih memperluas perhatiannya ke para penderita Epidermolysis Bullosa di luar layar kaca, atau ke cabang-cabang penyakit langka lainnya, tak jadi soal. Pesan moral yang mau ditawarkan ke penonton sesungguhnya tak jauh dari iklan-iklan Body Shop atau Starbucks. Misalnya, “Saat Anda menggunakan sabun mandi A, Anda membantu proses rehabilitasi ribuan korban pemerkosaan,” atau “Dengan membeli kopi B Anda telah berpartisipasi mengentaskan kemiskinan di Afrika.” Dalam Kick Andy: “Berdermalah sebanyak-banyaknya dan sesering mungkin, karena Anda tidak akan tahu sampai kapan anak-anak ini akan terus bertahan hidup, sampai kapan orang tua mampu membiayai pengobatan mereka secara mandiri, dan sampai kapan pula orang tua mereka dijamin tidak kena penyakit yang sama parahnya lantaran faktor genetis maupun kelelahan mengurusi sang anak.” Bahasa bernada urgensi adalah kata kuncinya.

 Saya tak paham bagaimana bahasa-bahasa penuh desakan darurat seperti itu bisa bekerja lalu ditakar dengan nalar. Yang saya tahu, perempuan di India tidak diperkosa karena sebagian orang di Indonesia malas mandi sehingga tidak pernah jadi pelanggan sabun Body Shop yang harganya tidak wajar itu. Pun, asal-usul kemelaratan di Bolivia tidak bersumber dari keengganan orang di Fiji atau Lesotho untuk membayar secangkir kopi seharga lima puluh ribuan plus pajak. Kalaupun berhubungan, Body Shop dan Starbucks tidak pernah berusaha menjelaskannya. Demikian pula Kick Andy. Maka, seruan untuk membantu sesama dalam tayangan ini pada dasarnya adalah seruan reaktif, yang tertuju pada efek yang kelihatan menyedihkan, mengharukan, atau menggugah pada perorangan yang bernasib paling malang.

Lagi-lagi suara ala para pemuda sukses berdengung: anak-anak yang menderita sakit beserta keluarganya ditampilkan sebagai suara otentik, yang berlawanan dengan pendapat analis, komentator, kritikus yang seringkali ditanggapi pemirsa televisi Indonesia secara dingin, dicap “cuma bisa bicara tanpa aksi”, bisa dibeli sesuai cuaca politik, dan sederet cap lainnya yang lazim dilekatkan kepada siapa saja yang disebut intelektual.

Menonton Kick Andy, kita seperti diajak melupakan perbicangan politik, debat-debat ekonomi yang sesak statistik, polemik kebudayaan yang melangit. Karena, kini kita sedang menghadapi sesuatu yang nyata, gawat, di depan mata, dan buruknya lagi, tak pernah disodorkan ke publik, kecuali lewat Kick Andy. Tak perlu analisis mendakik-dakik ketika menyaksikan seorang gadis usia 20-an bisa bisa membeli ratusan hektar kebun, sementara ribuan gadis seusianya yang lain sama-sama giat bekerja dan rajin menabung, namun berakhir dengan bekas sundutan rokok majikan di wajah; tak perlu menyelidiki apakah kemampuan ekonomi berhubungan erat dengan layak-tidaknya konsumsi dan perawatan seorang ibu ketika hamil; dan orang pun tak butuh tahu tentang bagaimana kedokteran kini tak lain adalah medical-industrial complex di mana para dokter kaya berdemo menuntut pembebasan rekan mereka yang dihukum lantaran malpraktek. Yang Anda lihat adalah apa yang Anda dapatkan: ada orang sakit, ada penyelamat; ada saatnya sukses di usia muda, ada saatnya buang-buang duit untuk si sakit dan si tak-beruntung. Betapapun miskin kondisi orang tua, motonya adalah ulet pangkal kaya; apapun penyakitnya, filantropi solusinya. Seeing is believing, bung!(***)

Reblog dari Remotivi.
Ditulis oleh Windu W. Jusuf

Lagi, Slank Sindir Koruptor!


Walau agak terlambat karena rilis tidak tepat di hari pertama Ramadhan, tapi sepertinya Lagu terbaru SLANK berjudul HALAL yang baru dirilis ini akan SUKSES. Hal ini saya prediksi karena memang lirik dan lagunya keren banget. -

Selain bertepatan dengan datangnya bulan Ramadhan, lagu SLANK yang berjudul HALAL kali ini berisi sindiran-sindiran dan pesan moral yang sangat pas dengan kondisi bangsa Indonesia seperti sekarang ini.

Seolah-olah SLANK memberikan sindiran pedas untuk orang-orang yang saat ini banyak sekali mencari duit dengan cara HARAM termasuk KORUPSI. Tidak hanya itu saja, Istri-istri juga diharapkan jangan sampai meminta banyak permintaan “itu-ini” kepada suami, karena terkadang mungkin dianggap berawal dari banyaknya permintaan kebutuhan dari sang Istri, maka seorang suami akhirnya mengambil jalan pintas untuk korupsi.

Dalam lirik lagu ini juga SLANK menyinggung bahwa uang yang didapat dengan cara HARAM pasti tidak akan berkah. Untuk anda yang ingin tahu secara lengkap tentang Lirik Lagu SLANK TERBARU berjudul HALAL, berikut ini saya tuliskan lirik lagunya lengkap untuk anda:
Huuu...
Bismillahirohmani Rohim
Uang haram nanti karma
Uang panas cepet melayang
Uang Jin dan plihara tuyul
Uang setan gak bakal berkah
Uang siluman uang gak jelas

Merangkak dari bawah
Gak perlu mewah mewah
Sedikit demi sedikit lama lama jadi bukit
Meskipun kaya masuk penjara

Yang halal halal saja
Yang halal halal saja
haa haaa laaa laaa
Yang halal halal saja
Yang halal halal saja
haa haaa laaa laaa

Untuk para istri-istri
Jangan maksa-maksa suami
Minta beli itu ini
Berakhir dengan korupsi
Uang siluman Uang Gak jelas

Yang halal halal saja
Yang halal halal saja
haa haaa laaa laaa
Yang halal halal saja
Yang halal halal saja
haa haaa laaa laaa

Uang siluman Uang Gak jelas
Yang halal halal saja
Yang halal halal saja
haa haaa laaa laaa
Yang halal halal saja
Yang halal halal saja
haa haaa laaa laaa
Reblog dari BlogDetik
Seolah-olah SLANK memberikan sindiran pedas untuk orang-orang yang saat ini banyak sekali mencari duit dengan cara HARAM termasuk KORUPSI.
Tidak hanya itu saja, Istri-istri juga diharapkan jangan sampai meminta banyak permintaan “itu-ini” kepada suami, karena terkadang mungkin dianggap berawal dari banyaknya permintaan kebutuhan dari sang Istri, maka seorang suami akhirnya mengambil jalan pintas untuk korupsi.
Dalam lirik lagu ini juga SLANK menyinggung bahwa uang yang didapat dengan cara HARAM pasti tidak akan berkah.
Untuk anda yang ingin tahu secara lengkap tentang Lirik Lagu SLANK TERBARU berjudul HALAL, berikut ini saya tuliskan lirik lagunya lengkap untuk anda.
Pada akhir tulisan juga saya sertakan tayangan video musiknya. Silahkan dinikmati dan diresapi lagu terbaru SLANK berjudul HALAL berikut:
Huuu... Bismillahirohmani Rohim Uang haram nanti karma Uang panas cepet melayang Uang Jin dan plihara tuyul Uang setan gak bakal berkah Uang siluman uang gak jelas Merangkak dari bawah Gak perlu mewah mewah Sedikit demi sedikit lama lama jadi bukit Meskipun kaya masuk penjara Yang halal halal saja Yang halal halal saja haa haaa laaa laaa Yang halal halal saja Yang halal halal saja haa haaa laaa laaa Untuk para istri-istri Jangan maksa-maksa suami Minta beli itu ini Berakhir dengan korupsi Uang siluman Uang Gak jelas Yang halal halal saja Yang halal halal saja haa haaa laaa laaa Yang halal halal saja Yang halal halal saja haa haaa laaa laaa Uang siluman Uang Gak jelas Yang halal halal saja Yang halal halal saja haa haaa laaa laaa Yang halal halal saja Yang halal halal saja haa haaa laaa laaa

Monday, 8 June 2015

Julie Estelle, Kebanggaan Film Laga Nusantara!

Siapa ingat adegan si "Hammer Girl" Julie Estelle di film The Raid 2: Berandal (2014)? Yep. Atas aksinya, Julie menyabet penghargaan "Best New Action Actress" pada ajang "Jackie Chan Action Movie Week Gala Night" di Shanghai International Film Festival 2015.

Seperti dikutip dari Harian Kompas (2/7), Julie mengaku tak sempat menghadiri langsung ajang bergengsi itu:
"Sayang saya tak bisa hadir di sana karena paspor saya masih dalam proses perpanjangan," Julie Estelle.
Meski demikian, Julie tetap layak menjadi kebanggaan film laga kita. Aksinya telah mendapat perhatian sekelas aktor laga dunia, Jackie Chan. Siapa yang menyusul Julie? (***)

Monday, 18 May 2015

Malam-malam yang Menyuburkan Jazz

"Jazz is about being in the moment." --Herbie Hancock (Musisi, 1940-...)

Di tahun 1960an, Slug Saloon yang terletak di East 3rd Street, pinggiran Manhattan (Lower East Side), adalah bar yang jauh dari kehidupan malam kota New York. Lingkungan kumuh menjadikannya terlampau berbahaya. Untuk mengusir pedagang obat bius, pemilik kelab ini mengundang Sun Ra’s Arkestra, yang menjerit di kegelapan yang nyaris total. Tak lama, penyair pun berdatangan, lalu pelukis, disusul selebritas (Salvador Dali muncul di suatu malam, dikelilingi para pembantunya yang membawa lilin).

Di kelab ini pengunjung bisa menyaksikan Sonny Rollins memasuki bar dan tampil pada suatu malam, lalu pulang berjalan kaki, sambil tetap bermain; atau mendengar Ornette Coleman memainkan saksofon plastik; atau, di malam yang naas, menyaksikan istri pemain trompet Lee Morgan menembak musisi ini di panggung.

Suasana malam seperti di Slug Saloon andil menyuburkan pertumbuhan jazz. Namun, kelab bukan sekedar tempat musisi unjuk aksi. John Szwed, dalam Jazz 101, meletakkan cerita dan legenda di seputar kelab jazz sebagai momen-momen yang membentuk musik ini. Di kelab jazz, musisi tumbuh dewasa; tempat kesalahan dimaklumi, keberhasilan dirayakan. Di sini musisi nongkrong, mendengarkan rekannya bermain, atau ber-jam session.

Bagian terbesar sajian Szwed membentang sejak Louis Armstrong hingga 1960-an—serta sedikit porsi untuk jazz era 80-90an dan “jazz Eropa.” Ketika itu arus utama jazz masih mengalir baik, hingga di medio 60-an rock and roll memperkuat cengkeramannya. Banyak kelab jazz gulung tikar atau beralih ke rock, lalu jadi diskotek… Di masa jayanya, menurut Szwed, jazz merambah ke luar lewat beragam representasi—rekaman, film, sastra, iklan, pakaian, pidato, makanan dan minuman.

Tapi, apakah musik jazz itu sehingga pengaruhnya begitu luas? Saat ditanya “apa itu jazz,” Louis Armstrong menjawab, “Kalau kamu bertanya, kamu tidak akan pernah tahu.” Jazz bisa dikenali, meski tak mesti dijelaskan dengan kata-kata. Jazz menolak definisi. Buku ini pun menghindari definisi, tapi memaparkan unsur-unsur pembentuk jazz.

Sebelum bertutur perihal sejarah jazz, Szwed mengurai bentuk, sumber, aransemen, komposisi, dan improvisasi. Juga, bagaimana ’cara’ mendengarkan jazz. Ini sekedar pembuka untuk kemudian kita diajak menyusuri kisah kehebatan musisi jazz yang sanggup menciptakan momen luar biasa intens hingga penonton tergerak, melompat dari tempat duduk, atau berteriak spontan.

Tentu saja, diskusi ihwal improvisasi beroleh penekanan. Sudah lama improvisasi dianggap ciri khas jazz, walau banyak musik lain berimprovisasi dalam derajat tertentu. Ada benarnya pendapat Szwed: musisi jazz berlaku seolah jazz-lah satu-satunya jenis musik yang menitikberatkan kreativitas instan dalam permainannya. Musisi jazz berbicara melampaui apa yang dikomposisikan, melebihi interpretasi ala kadarnya, menuju tingkat kreativitas yang lebih inspiratif dan spontan. Mereka sanggup mencapai kondisi trans, berada di garis batas kesadaran dan ketaksadaran.

Menarik, Szwed tidak berusaha menyembunyikan aroma favoritismenya. Sewaktu mengulas “Fooling’Myself” Quintessential Billie Holiday, Vol. 4, Szwed menulis: “Saat mencapai bridge, dengan amat luar biasa ia bernyanyi begitu jauh di belakang beat sehingga seolah-olah lagu itu akan tercerai-berai. Dia memiliki kepekaan ketukan serupa dengan apa yang Mozart dan Chopin sebut sebagai tempo rubato, yaitu kemampuan untuk berkeliaran jauh dari iringan yang ketat namun akhirnya dapat kembali ke ketukan yang tepat.”

Kapasitasnya sebagai guru besar antropologi-musik memungkinkan buku ini tersaji begitu renyah. Ada antusiasme personal, dan ini yang justru membuat kita setia mengarungi karya Szwed hingga selesai. Sayangnya, Szwed menempatkan nyanyian jazz sekedar lampiran, walau ia menulis ‘tak ada alasan untuk tidak menganggap vokal bagian penting dari jazz.’ Mungkin ia tak bisa sepenuhnya menghindar dari pendapat ‘pasar’ bahwa kontribusi terpenting dalam jazz diberikan oleh instrumentalis dan jazz, pada intinya, adalah musik instrumental. Padahal, tak bisa ditampik, Louis Armstrong, Nat ‘King’ Cole, Sarah Vaughan, Ella Fitzgerald memberi kontribusi yang hebat.

Tapi, sesudah semua itu, apa? Masihkah jazz menarik, adakah yang baru? Jawabannya mungkin seperti yang dikatakan Max Harrison, jazz tak bisa mengulang masa lalu sekaligus tidak keluar dari masa lalu. Jazz selalu bertambah dan berubah dari yang telah ada. Pendeknya, akan selalu enak untuk dinikmati. (***)
Reblog dari Indonesiana. 
Ditulis oleh Dian Basuki.